Senin, 24 Februari 2025

 

Lukas 4:12 (TB) Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Luke 4:12 (NET) Jesus answered him, “It is said, You are not to put the Lord your God to the test”

 

Arti dari mencobai Tuhan adalah “Menantang Tuhan dengan meragukan kekuasaan-Nya melalui ucapan-ucapan yang bernada cemoohan kepada Tuhan”.  Hal ini disebabkan oleh hati yang bebal dan tidak percaya kepada Tuhan.  Bangsa Israel berulangkali tidak menjaga mulutnya dari berbuat dosa.  Mereka terpancing dengan situasi sulit dan keadaan lainnya, sehingga mereka berkata: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”

 

Mencobai TUHAN bisa dilakukan secara langsung dengan kesadaran penuh untuk melawan Allah atau memberontak kepada Allah. Bisa pula diakibatkan oleh diri sendiri karena kurang mengerti, minim dalam pemahaman, akhirnya terbawa dan terjebak dalam arus yang salah. Dan, tanpa sadar, mereka telah mencobai Tuhan. 

 

Pernahkah kita mencobai Tuhan? Kita barangkali mengingkarinya. Tapi fakta menunjukkan bahwa banyak orang Kristen telah mencobai Tuhan, dengan atau tanpa sengaja. Yang lebih menyedihkan, banyak dari mereka yang mencobai Tuhan tetapi menganggapnya sebagai sebuah ekspresi iman yang benar.

 

Dengan klaim alkitabiah, tampillah bermacam-macam tindakan mencobai Tuhan. Sementara yang disebut alkitabiah itu nyaris tidak jelas. Apakah yang dimaksud dengan alkitabiah? Apakah kalau menyitir ayat Kitab Suci lalu sebuah kotbah disebut alkitabiah? Untuk sebuah ayat Alkitab, bisa muncul penafsiran yang beragam dan saling bertolak belakang. Karena itu setialah pada Alkitab. Setialah pada konteks dan latar belakang ayat yang diangkat.

 

Pertanyaan kita sekarang adalah mengapa kita mau mencobai TUHAN? Apakah faktor yang menyebabkan kita mencobai TUHAN? Ada beberapa faktor yang membuat kita mencobai TUHAN, yakni:

 

Pertama, karena didorong hawa nafsu. Paulus menuliskan bahwa penyebab kita mencobai TUHAN adalah karena ingin memuaskan hawa nafsunya (1 Kor. 10:9). Dengan bertolak dari pengalaman perjalanan bangsa Israel, Paulus memberikan wawasan bagi umat Korintus agar tidak terperangkap dalam kesalahan fatal yang sama. Pengalaman perjalanan bangsa Israel berisi rentetan peristiwa pengkhianatan kehendak Tuhan karena didorong oleh kecenderungan untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Untuk memuaskan nafsu mereka, mereka membuat patung dari tuangan emas dan menyembahnya. Beberapa kebiasaan kafir dari Mesir mereka bawa dan praktikkan. Termasuk juga melakukan pesta seks yang merupakan bagian dari ritus kafir. Melalui semuanya ini, mereka mau menunjukkan penentangan mereka pada Allah dengan menganut ajaran dan praktek hidup yang sesat. Mereka berontak dan tak rela tunduk kepada Allah yang sudah memimpin mereka ke luar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah yang dijanjikan, Kanaan.

 

Kedua, karena muncullnya ajaran sesat. Mengapa banyak ajaran sesat muncul? Tak lain karena mereka mau mencobai Allah. Mereka mau meniadakan Tuhan yang utuh dan sejati. Mereka mencoba membongkar-pasang Tuhan dan mendirikan “tuhan” menurut pikiran mereka. Fenomena yang sama terjadi pada zaman kita ini. Christian Sains, Saksi Yehovah, Mormon dan berbagai macam sekte tumbuh subur dalam lingkungan Kristen. Ada Children of God yang asyik dengan pesta seks. 

 

Belakangan ini muncul pula bentuk-bentuk kekristenan yang aneh-aneh yang lagi-lagi mengklaim dirinya sebagai bentuk ekspresif yang paling kristiani. Mereka muncul sebagai gereja, resmi dalam badan tertentu, resmi menyebut Yesus, tetapi dalam konsep yang lain. Ini yang menakutkan! Allah yang seperti apa? Kristus yang seperti apa? Allah yang hanya memuaskan hawa nafsu? Bila demikian, berhati-hatilah! Allah yang diceritakan Alkitab bukanlah Allah yang memuaskan hawa nafsu kita. 

 

Ketiga, karena kita membuat perhitungan dengan TUHAN. Janganlah kita membuat perhitungan dengan Tuhan. Berhentilah mengatakan, “Tuhan, saya tahu, Engkau Allah yang mahakuasa. Buktikanlah kekuasaan-Mu itu dengan mengeluarkan aku dari penyakit ini!” Bila Allah mengabulkan doa kita, sadarlah, hal itu terjadi karena cinta dan kemurahan-Nya. Bukan wujud iman kita yang benar. Allah tidak perlu membuktikan diri kepada kita. Dia tetap Allah sekalipun kita tidak mengakuinya. Dia tetap Allah sekalipun kita meninggalkan-Nya. Dia tidak berubah hanya karena kita berubah. Berhati-hati dan bersikaplah bijak. Jangan menggantikan Allah yang sejati dengan “allah-allah’ yang lain oleh karena hawa nafsu kita seperti yang dilakukan umat Israel. 

 

Keempat, karena kita menuntut bukti. Markus 8:11-13 menunjukkan bentuk tindakan mencobai Tuhan yang lain, yaitu meminta tanda. “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: ‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”

 

Mereka menuntut bukti. “Buktikanlah bahwa Engkau anak Allah, turunkanlah api dari langit,” kata mereka. Kristus menjadi sedih. Dalam Markus diceritakan bagaimana kemudian Kristus berkata bahwa bagi bangsa atau angkatan ini tidak ada tanda, kecuali tanda Yunus. Tanda Yunus dipahami waktu itu sebagai tanda kebangkitan, tanda kemenangan. Maka Ia pun berkata, “Rubuhkan Bait Allah ini, kemudian Aku akan membangunnya kembali dalam tempo tiga hari.” Dia berbicara tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi orang lain mengejek. Mereka tidak percaya bahwa Kristus-lah anak Allah yang hidup, sekalipun mereka melihat banyak hal yang Dia lakukan. 

 

Mereka menuntut suatu tanda: “Tunjukkan kalau Engkau anak Allah.” Tapi Kristus tak mengabulkan tuntutan mereka. Mengapa? Karena Kristus tidak mau tunduk kepada keinginan mereka yang minta tanda hanya untuk memuaskan keinginan mereka saja. Apakah kalau api turun dari langit lalu mereka akan percaya dan menerima Kristus Yesus? Tidak! Yesus tahu persis itu. Kalau memang mereka mau bertobat, Yesus mau menurunkannya, karena Ia mau semua orang selamat. Akan tetapi, Kristus tahu kedegilan hati mereka. Jangankan api dari langit, sekalipun api menutupi seluruh bumi, mereka tidak akan berubah. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa bangsa ini lebih degil daripada Sodom Gomora. Sodom Gomora memang dibumihanguskan, tetapi itu karena mereka tidak pernah melihat mukjizat. Bangsa Israel begitu degil. Sekalipun orang Israel melihat mukjizat, mereka tetap tidak bertobat.  

 

Seringkali kita menuntut tanda dari Tuhan sebagai prasyarat bagi penyerahan total kita pada Tuhan. Bilapun Tuhan menjawab doa Anda, janganlah Anda berpikir bahwa iman Anda kuat dan hebat. Sebaliknya, hal itu membuktikan kelemahan iman Anda dan Tuhan memahami itu. 

 

Kelima, karena kita memberontak terhadap Allah. Pada Mazmur 78:56 tertulis: “Tetapi mereka mencobai dan memberontak kepada Allah Yang Mahatinggi dan tidak berpegang pada peringatan-Nya.” Ada tiga hal yang ditunjukkan dalam ayat itu: mencobai, memberontak dan tidak berpegang pada peringatan-Nya. Ketiga hal ini mirip, hanya pendekatannya yang berbeda. Semuanya didorong oleh keinginan untuk memuaskan hawa nafsunya dan karena tidak mau percaya pada ketetapan Allah. 

 

Pemberontakan terhadap Allah bisa muncul dalam berbagai rupa. Tidak jarang kita memberontak terhadap Tuhan karena kita merasa kehendak Tuhan itu tidak sejalan dengan keinginan dan harapan kita. Kita lupa bahwa sebagai manusia, kita serba terbatas. Keterbatasan itulah yang membuat kita tidak mampu melihat horison yang lebih jauh dari kemanusiaan kita. Keterbatasan itu seharusnya membuat kita terbuka pada kebesaran Tuhan, bukan malah membatasi Tuhan atau menggantikan posisi Tuhan seperti dilakukan Adam dan Hawa di Taman Eden. Karena ingin seperti Tuhan, perintah-Nya pun dilabrak. 

 

Jangan mencobai Tuhan. Dialah Allah yang menciptakan manusia. Dialah yang menciptakan seluruh alam semesta. Pada-Nya kita harus tunduk, bukan malah mencobai Dia. Belajarlah pasrah (sumeleh) dan menerima apa yang telah ditetapkan-Nya. Bekerja dan berkaryalah semaksimal mungkin. Belajarlah peka pada pimpinan-Nya. Kalau Dia memberi, bersyukurlah! Bila tidak, jangan kecewa! Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Jangan mencobai Tuhan. Dia Allah yang maha tahu. Dia tahu hati dan pikiran kita. Dia mengetahui seluruh perjalanan alam semesta. Mengapa kita mau mencobai Dia? Mengapa kita yang terbatas ini ingin mencobai Dia yang tak terbatas? Karena itu, jangan mencobai Tuhan Allah kita karena Dia adalah Allah yang memegang masa depan kita, seluruh manusia dan dunia ini. (rsnh)

 

Selamat berkarya untuk TUHAN


Selasa, 07 Januari 2025

Kalimat ketiga dari Pengakuan Iman Rasuli ini membawa kita kepada salah satu misteri terbesar sekaligus dua doktrin vital di dalam iman Kristen yaitu doktrin inkarnasi (Yesus, Anak Allah, menjadi manusia) serta doktrin dua natur Kristus. Kita dapat lebih memahami doktrin ini dengan membandingkan pengajaran dari Katolik Roma dengan Reformed berkenaan dengan kalimat ketiga ini.
Katolik Roma memberi penekanan pada kata “anak dara”. Marialah yang menjadi fokus bagi Theologi Katolik Roma. Ia diangkat sedemikian rupa sehingga disebut sebagai “Bunda Allah” atau “Ratu Sorga”. Berbeda dengan Katolik Roma, Reformed menekankan kata “lahir”. Yesuslah yang menjadi fokus bagi Theologi Reformed. Anak Allah yang kekal, yang lebih tinggi dari segala sesuatu, merendahkan diri-Nya sedemikian rupa, turun ke dalam dunia yang penuh sengsara ini.
Meskipun Iman Reformed menolak untuk berfokus kepada Maria, Iman Reformed tetap menyetujui, bahkan menganggapnya sebagai hal yang penting, untuk menyebut Maria sebagai Bunda Allah. Hal ini tentu saja bukan untuk meninggikan Maria, tetapi untuk mempertahankan bahwa Yesus adalah satu Pribadi yang memiliki dua natur (Allah dan manusia). Iman Reformed percaya bahwa yang dilahirkan oleh Maria adalah Allah-manusia. Selain itu, sebutan ini juga menjamin bahwa Yesus benar-benar manusia, yang dilahirkan melalui rahim seorang anak dara, dan bahwa Ia telah turun sampai ke level yang sama dengan manusia.
Namun, kita perlu berhati-hati di sini. Walaupun Yesus sama dengan kita dalam segala hal, ada satu perbedaan penting. Yesus tidak dilahirkan di dalam dosa dan Ia pun hidup tanpa dosa. Itulah sebabnya Pengakuan Iman Rasuli mengatakan Yesus lahir dari anak dara (perawan) Maria yang menunjukkan bahwa Yesus lahir bukan secara biasa seperti kita. Apabila Yesus lahir secara biasa (dari persetubuhan laki-laki dan perempuan), maka Yesus akan memiliki natur manusia berdosa. Sebab, siapa yang lahir dari daging adalah daging (Yoh. 3:6). Hal ini diperkuat oleh pernyataan bahwa Yesus lahir dari Roh Kudus. Maka, Yesus lahir secara kudus (tanpa dosa) dan keadaan tanpa dosa yang dimiliki Yesus ini bukanlah hasil dari kesucian Maria (sebagaimana ide dari Katolik Roma), melainkan karena karya Roh Kudus (Luk. 1:35). Maka, kita menyimpulkan bahwa hanya melalui mujizatlah, yaitu ketika Maria mengandung tanpa disetubuhi suaminya, Yesus dapat lahir sebagai manusia sejati, namun tanpa dosa. Dan dasar dari mujizat ini hanyalah karya Roh Kudus.
Mengapa doktrin ini begitu penting? Karena tanpa doktrin ini, tidak akan ada Injil keselamatan bagi orang berdosa. Kita dapat memahami ini melalui pertanyaan dan jawaban dari Katekismus Besar Westminster: “Mengapa kita memerlukan Pengantara yang sepenuhnya Allah dan juga sepenuhnya manusia?” Kita memerlukan Pengantara yang sepenuhnya Allah agar Ia dapat menjaga natur manusia tidak tertelan oleh murka Allah dan kuasa kematian; memberikan nilai dan kemanjuran dari penderitaan, ketaatan, dan perantaraan-Nya; singkatnya, pekerjaan penyelamatan manusia ini sedemikian besar sehingga tidak ada yang dapat melakukannya kecuali Dia adalah Allah sejati. Namun pada saat yang bersamaan, kita juga memerlukan pengantara yang sepenuhnya manusia agar Ia dapat memulihkan natur kita, menjalankan ketaatan kepada Hukum Taurat, menderita, dan menjadi perantara bagi kita di dalam natur kita; singkatnya, karena manusialah yang memerlukan keselamatan, maka pekerjaan keselamatan ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh manusia sendiri.
Pengantara yang dapat memperdamaikan Allah dan manusia, haruslah Allah dan manusia. Dan kedua natur ini harus ada di dalam satu pribadi, sehingga karya yang tepat bagi masing-masing natur ini dapat diterima Allah. Dengan kata lain, Pengantara yang dapat menyelamatkan kita haruslah Dia yang dapat menjangkau Allah dan juga menjangkau manusia. Dan hanya Kristuslah yang dapat melakukannya karena Dia adalah Allah dan manusia, dalam dua natur yang berbeda, di dalam Satu Pribadi, selamanya. (MR)


BTemplates.com

FOLLOW US

Popular Posts