Lukas 4:12 (TB) Yesus menjawabnya, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
Luke 4:12 (NET) Jesus answered him, “It is said, You are not to put the Lord your God to the test”
Arti dari mencobai Tuhan adalah “Menantang Tuhan dengan meragukan kekuasaan-Nya melalui ucapan-ucapan yang bernada cemoohan kepada Tuhan”.
Hal ini disebabkan oleh hati yang bebal dan tidak percaya kepada
Tuhan. Bangsa Israel berulangkali tidak menjaga mulutnya dari berbuat
dosa. Mereka terpancing dengan situasi sulit dan keadaan lainnya,
sehingga mereka berkata: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir?
Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan
tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”
Mencobai TUHAN bisa dilakukan secara langsung dengan kesadaran penuh untuk melawan Allah atau memberontak kepada Allah.
Bisa pula diakibatkan oleh diri sendiri karena kurang mengerti, minim
dalam pemahaman, akhirnya terbawa dan terjebak dalam arus yang salah.
Dan, tanpa sadar, mereka telah mencobai Tuhan.
Pernahkah kita
mencobai Tuhan? Kita barangkali mengingkarinya. Tapi fakta menunjukkan
bahwa banyak orang Kristen telah mencobai Tuhan, dengan atau tanpa
sengaja. Yang lebih menyedihkan, banyak dari mereka yang mencobai Tuhan
tetapi menganggapnya sebagai sebuah ekspresi iman yang benar.
Dengan klaim alkitabiah, tampillah bermacam-macam tindakan mencobai Tuhan.
Sementara yang disebut alkitabiah itu nyaris tidak jelas. Apakah yang
dimaksud dengan alkitabiah? Apakah kalau menyitir ayat Kitab Suci lalu
sebuah kotbah disebut alkitabiah? Untuk sebuah ayat Alkitab, bisa muncul
penafsiran yang beragam dan saling bertolak belakang. Karena itu
setialah pada Alkitab. Setialah pada konteks dan latar belakang ayat
yang diangkat.
Pertanyaan kita
sekarang adalah mengapa kita mau mencobai TUHAN? Apakah faktor yang
menyebabkan kita mencobai TUHAN? Ada beberapa faktor yang membuat kita
mencobai TUHAN, yakni:
Pertama, karena didorong hawa nafsu. Paulus
menuliskan bahwa penyebab kita mencobai TUHAN adalah karena ingin
memuaskan hawa nafsunya (1 Kor. 10:9). Dengan bertolak dari pengalaman
perjalanan bangsa Israel, Paulus memberikan wawasan bagi umat Korintus
agar tidak terperangkap dalam kesalahan fatal yang sama. Pengalaman
perjalanan bangsa Israel berisi rentetan peristiwa pengkhianatan
kehendak Tuhan karena didorong oleh kecenderungan untuk memuaskan hawa
nafsu mereka. Untuk memuaskan nafsu mereka, mereka membuat patung dari tuangan emas dan menyembahnya.
Beberapa kebiasaan kafir dari Mesir mereka bawa dan praktikkan.
Termasuk juga melakukan pesta seks yang merupakan bagian dari ritus
kafir. Melalui semuanya ini, mereka mau menunjukkan penentangan mereka
pada Allah dengan menganut ajaran dan praktek hidup yang sesat. Mereka
berontak dan tak rela tunduk kepada Allah yang sudah memimpin mereka ke
luar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah yang dijanjikan, Kanaan.
Kedua, karena muncullnya ajaran sesat. Mengapa
banyak ajaran sesat muncul? Tak lain karena mereka mau mencobai Allah.
Mereka mau meniadakan Tuhan yang utuh dan sejati. Mereka mencoba
membongkar-pasang Tuhan dan mendirikan “tuhan” menurut pikiran mereka.
Fenomena yang sama terjadi pada zaman kita ini. Christian Sains, Saksi
Yehovah, Mormon dan berbagai macam sekte tumbuh subur dalam lingkungan
Kristen. Ada Children of God yang asyik dengan pesta seks.
Belakangan ini muncul
pula bentuk-bentuk kekristenan yang aneh-aneh yang lagi-lagi mengklaim
dirinya sebagai bentuk ekspresif yang paling kristiani. Mereka muncul
sebagai gereja, resmi dalam badan tertentu, resmi menyebut Yesus, tetapi
dalam konsep yang lain. Ini yang menakutkan! Allah yang seperti apa?
Kristus yang seperti apa? Allah yang hanya memuaskan hawa nafsu? Bila
demikian, berhati-hatilah! Allah yang diceritakan Alkitab bukanlah Allah
yang memuaskan hawa nafsu kita.
Ketiga, karena kita membuat perhitungan dengan TUHAN. Janganlah
kita membuat perhitungan dengan Tuhan. Berhentilah mengatakan, “Tuhan,
saya tahu, Engkau Allah yang mahakuasa. Buktikanlah kekuasaan-Mu itu
dengan mengeluarkan aku dari penyakit ini!” Bila Allah mengabulkan doa
kita, sadarlah, hal itu terjadi karena cinta dan kemurahan-Nya. Bukan
wujud iman kita yang benar. Allah tidak perlu membuktikan diri kepada
kita. Dia tetap Allah sekalipun kita tidak mengakuinya. Dia tetap Allah
sekalipun kita meninggalkan-Nya. Dia tidak berubah hanya karena kita
berubah. Berhati-hati dan bersikaplah bijak. Jangan menggantikan Allah
yang sejati dengan “allah-allah’ yang lain oleh karena hawa nafsu kita
seperti yang dilakukan umat Israel.
Keempat, karena kita menuntut bukti. Markus
8:11-13 menunjukkan bentuk tindakan mencobai Tuhan yang lain, yaitu
meminta tanda. “Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab
dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu
tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata:
‘Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”
Mereka menuntut bukti.
“Buktikanlah bahwa Engkau anak Allah, turunkanlah api dari langit,”
kata mereka. Kristus menjadi sedih. Dalam Markus diceritakan bagaimana
kemudian Kristus berkata bahwa bagi bangsa atau angkatan ini tidak ada
tanda, kecuali tanda Yunus. Tanda Yunus dipahami waktu itu sebagai tanda
kebangkitan, tanda kemenangan. Maka Ia pun berkata, “Rubuhkan Bait
Allah ini, kemudian Aku akan membangunnya kembali dalam tempo tiga
hari.” Dia berbicara tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi orang
lain mengejek. Mereka tidak percaya bahwa Kristus-lah anak Allah yang
hidup, sekalipun mereka melihat banyak hal yang Dia lakukan.
Mereka menuntut suatu
tanda: “Tunjukkan kalau Engkau anak Allah.” Tapi Kristus tak mengabulkan
tuntutan mereka. Mengapa? Karena Kristus tidak mau tunduk kepada
keinginan mereka yang minta tanda hanya untuk memuaskan keinginan mereka
saja. Apakah kalau api turun dari langit lalu mereka akan percaya dan
menerima Kristus Yesus? Tidak! Yesus tahu persis itu. Kalau memang
mereka mau bertobat, Yesus mau menurunkannya, karena Ia mau semua orang
selamat. Akan tetapi, Kristus tahu kedegilan hati mereka. Jangankan api
dari langit, sekalipun api menutupi seluruh bumi, mereka tidak akan
berubah. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa bangsa ini lebih degil
daripada Sodom Gomora. Sodom Gomora memang dibumihanguskan, tetapi itu
karena mereka tidak pernah melihat mukjizat. Bangsa Israel begitu degil.
Sekalipun orang Israel melihat mukjizat, mereka tetap tidak bertobat.
Seringkali kita
menuntut tanda dari Tuhan sebagai prasyarat bagi penyerahan total kita
pada Tuhan. Bilapun Tuhan menjawab doa Anda, janganlah Anda berpikir
bahwa iman Anda kuat dan hebat. Sebaliknya, hal itu membuktikan
kelemahan iman Anda dan Tuhan memahami itu.
Kelima, karena kita memberontak terhadap Allah. Pada
Mazmur 78:56 tertulis: “Tetapi mereka mencobai dan memberontak kepada
Allah Yang Mahatinggi dan tidak berpegang pada peringatan-Nya.” Ada tiga
hal yang ditunjukkan dalam ayat itu: mencobai, memberontak dan tidak
berpegang pada peringatan-Nya. Ketiga hal ini mirip, hanya pendekatannya
yang berbeda. Semuanya didorong oleh keinginan untuk memuaskan hawa
nafsunya dan karena tidak mau percaya pada ketetapan Allah.
Pemberontakan terhadap
Allah bisa muncul dalam berbagai rupa. Tidak jarang kita memberontak
terhadap Tuhan karena kita merasa kehendak Tuhan itu tidak sejalan
dengan keinginan dan harapan kita. Kita lupa bahwa sebagai manusia, kita
serba terbatas. Keterbatasan itulah yang membuat kita tidak mampu
melihat horison yang lebih jauh dari kemanusiaan kita. Keterbatasan itu
seharusnya membuat kita terbuka pada kebesaran Tuhan, bukan malah
membatasi Tuhan atau menggantikan posisi Tuhan seperti dilakukan Adam
dan Hawa di Taman Eden. Karena ingin seperti Tuhan, perintah-Nya pun
dilabrak.
Jangan mencobai Tuhan.
Dialah Allah yang menciptakan manusia. Dialah yang menciptakan seluruh
alam semesta. Pada-Nya kita harus tunduk, bukan malah mencobai Dia.
Belajarlah pasrah (sumeleh) dan menerima apa yang telah ditetapkan-Nya.
Bekerja dan berkaryalah semaksimal mungkin. Belajarlah peka pada
pimpinan-Nya. Kalau Dia memberi, bersyukurlah! Bila tidak, jangan
kecewa! Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Jangan mencobai Tuhan.
Dia Allah yang maha tahu. Dia tahu hati dan pikiran kita. Dia mengetahui
seluruh perjalanan alam semesta. Mengapa kita mau mencobai Dia? Mengapa
kita yang terbatas ini ingin mencobai Dia yang tak terbatas? Karena
itu, jangan mencobai Tuhan Allah kita karena Dia adalah Allah yang
memegang masa depan kita, seluruh manusia dan dunia ini. (rsnh)
Selamat berkarya untuk TUHAN